Mengisi Gap

Setelah menjadi murid sekolah di Indonesia selama hampir seluruh hidup saya, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi (masih Indonesia juga) di Bandung, telah beberapa kali saya merasakan pendidikan yang menunjukkan junior-senior. Kira-kira begini: kalo junior salah, atau kurang tepat, atau berbeda, maka akan di-bully, di-marahin, atau di-arah-arahkan agar si junior ini mengakui bahwa dia berbeda dengan yang sudah ada. Yang sudah ada ini bisa budaya, kebiasaan, aturan, atau apa pun yang ‘udah dari sananya begitu’.

Kenapa saya ga cocok (dan ga akan setuju), dengan pendidikan senior-junior/ospek?

Karena sekarang pendidikan berdasarkan senioritas/ospek sudah tidak dibutuhkan di dunia belahan mana pun.

Why?

Because people demands respect, no matter how old they are.

Hampir di setiap acara yang saya hadiri pesertanya orang Indonesia dengan budaya yang masih ‘Indonesia banget’ (yang sebagian besar orangnya merupakan hasil pendidikan senioritas/ospek yang membudaya di sekolah yang ‘Indonesia banget’). Di saat ada yang presentasi atau berbicara di depan publik, maka si penonton atau yang diberi presentasi asik ngobrol sendiri, main hape sendiri, bikin forum/diskusi bareng kelompoknya, bahkan keluar/masuk ruangan. Akan lebih baik jika memang ga berminat/ga butuh dengan presentasi tersebut, mereka keluar ruangan daripada mengganggu orang2 yang emang membutuhkan informasi tersebut.

Begitu juga di dalam dunia pekerjaan. Di saat ada rekan kerja yang:

  1. Jabatan lebih rendah.
  2. Usia lebih muda.
  3. Jabatan lebih tinggi tapi beda bagian.
  4. Kenal tapi ga deket2 amat, alias jarang ngobrol atau jarang omong-omong kosong bersama.
  5. Or something like this.

Maka saat rekan kerja ini yang butuh bantuan , maka akan kurang diprioritaskan. Lain halnya jika tiba-tiba bos sendiri yang meminta mereka melaksanakan tugas tersebut,maka akan ditindak lanjut dengan cepat, tepat, gesit, bahkan diusahakan terlihat. Padahal, isi tugasnya sama saja dengan yang diminta oleh rekan2 sendiri. Bingung kan (?).

Dan saya yakin, semua berasal dari budaya pendidikan dasar kita di bangku sekolah yang masih junior-senior/ospek.

Rather than ngajarin attitude, tapi pendidikan dasar kita masih sibuk dengan ngurusin agama, harus menghormati yang lebih tua, harus ini-itu, kalo makan ini masuk neraka, kalo mati baca itu masuk surga, dan lain sebagainya, yang sebenarnya bisa dibikin simple : punyalah attitude.

Less is more.

Di awal tahun 2014, seorang trainer menggambarkan ini di papan tulis untuk para peserta pendidikan BPS 2013:

Ilustrasi
Gap (kekosongan atau rentang) antara keadaan sekarang dengan keadaan yang dibutuhkan.

Jika kita dapat memperkecil (atau menghilangkan) gap antara keadaan dengan kebutuhan, maka kita akan dibayar. Semakin besar gap-nya, maka akan semakin besar pula bayarannya.

Misalnya: ongkos taxi-burung-biru lebih tinggi daripada ongkos metro-mini

Bayangkan, naik-turun metro mini itu sambil si metro mini jalan! Dulu saya pertama kali naik metro mini di tahun 2000-an. Saya bergumam dalam hati, gila banget nih, beneran ga ada kendaraan lain yang waras? Gw mempertaruhkan hidup gw demi ongkos 2ribu perak, tapi kalo gw jatoh kepala bocor, kaki patah, dll, harganya ga segitu juga kaliii. Belum lagi ada pengemis berjubah preman, naik ke metro mini sambil baca puisi yang isinya ngancam “kalo gw ga dikasi duit awas aja lo pada“.

Gara-gara hal tersebut, saya bela-belain menghemat ongkos2 lain demi bisa naik taxi-burung-biru di kala itu (mengingat ongkos dari orangtua juga pas-pasan) buat ngelamar kerja dari satu gedung ke gedung lain. Gapapa deh mahal, atau saya ga makan siang/malam, yang penting saya aman, kepala-kaki utuh, dan naik-turun kendaraan saat kendaraan berhenti (bukan jalan, coyyy).

Itulah gap yang diisi taxi-burung-biru: keadaan yang ga nyaman vs keadaan yang dibutuhkan:  aman & nyaman. Berhasil mengisi kebutuhan dan orang mau bayar mahal demi memperoleh hal tersebut.

Begitu juga respect.

Respect itu bukan cuma dibutuhkan senior atau bos, tapi semua orang butuh respect, ga peduli umurnya berapa. Semakin ga punya respect (atau attitude), maka makin malas orang (atau perusahaan) membayar kita. That’s why, budaya senioritas/ospek sebaiknya cepet-cepet aja dievaluasi (alias dihilangkan) karena emang dah ga dibutuhkan di belahan dunia mana pun.

Dan that’s why juga, kenapa perusahaan yang ‘Indonesia banget’ sebaiknya segera mengevaluasi sistem junior-senior/ospek karena orang yang layak dipromosikan bukanlah orang yang lebih senior, namun orang yang memang berprestasi. Hei, kita akan menghadapi pasar terbuka ASEAN, dan kita diminta bersaing secara fair, ga pake nangis atau menye-menye di tengah persaingan tersebut. Yang berkualitas akan diakui masyarakat, perusahaan akan mempertahankan, memperpanjang kontrak, merekrut orang-orang tersebut, dan yang tertinggal akan semakin ditinggal, ditambah lagi saran/kritik yang mudahnya dituliskan di sosial media.

Jadi, masih bangga nulisin saya Indonesia (?).

See ya at the next post.

Mengisi Gap

Berbuat Baik

Seringkali saya membaca atau mendengat curhatan orang, yang bilang,”Aku dah kasih semua usahaku untuk perusahaan, tapi kenapa aku ga dipromosi? Malah temenku  dipromosi lebih cepat?”

Atau ada juga yang curhat begini,”Aku ga ngerti, kok dia rese banget ama kegiatan aku padahal aku ga rese ke dia?”

Atau ada juga,”Apa sih salahku? Aku dinyinyirin terus, padahal apa yang aku lakukan ga pernah ganggu hidup dia, aku ga pernah ngomentarin hidup dia?”

Jawabannya cuma satu: itu karena maunya si dia, bukan kamu. Dia ini bisa apa aja, mulai dari perusahaan tempat kita bekerja, bisa rekan kantor, bisa orangtua, bisa pasangan/pacar/suami/istri. bisa juga sahabat kita.

Berbuat baik itu keputusan pribadi kita, dan kalo kita mau berbuat baik, itu niatnya darimana? Dari hati kita. Isi hati kita siapa yang tahu? Kita sendiri.

Maka dari itu, jika sahabat kita membalas kebaikan kita, maka itu terjadi karena dia yang mau berbuat baik, dan alasannya terserah dia berasal darimana. Bisa aja dia beralasan, mau berbuat baik ke kita karena kita dah bantu dia nge-back-up kerjaan dia selama dia cuti.  Tapi kalo dia ga mau baik, itu juga hanya dia yang tau. Bisa saja dia ga ngerespon kebaikan kita karena dia masih inget kalo kita pernah tanpa sengaja bikin dia tersinggung saat kita mengutarakan pendapat, tapi bukannya dia ingetin, dia malah ngebalesnya pake kode2, seperti nyindir, nyikut, atau sesuatu yang kita ga paham, berkelanjutan hingga ngeselin, hingga kita berpikir kenapa dia harus jahat kalo kita udah baik?

Sekali lagi, jawabannya: dia mau berbuat baik itu karena dia yang mau, bukan karena kamu yang mau.

Maka, berterimakasihlah kepada orang2 yang udah baik ke kamu. Dan kamu pun sebaiknya tau diri, bahwa jika orang lain sudah baik, maka bantulah balas kebaikannya. Kebaikan itu niatnya datang dari si orang! Bukan kamu!

Pernah saya mengikuti training Stephen Covey bertema: 7 Habits of Highly Effective People (saya rasa saya butuh refresh materi ini, dan saya sangat merekomendasikan kalian untuk mengikutinya). Salah satu dari 7 habits itu adalah: circle of influence and circle of concern (lingkaran/wilayah yang bisa kita ubah dan lingkaran/wilayah yang hanya bisa kita peduli-kan, tapi ga bisa kita ubah).

Circle of Influenc
Pict Source: here

Apa yang bisa kita ubah? Perilaku kita, untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Bahkan untuk menjadi setia, itu keputusan pribadi kita. Menyayangi atau jatuh cinta pada orang yang sama berulang-ulang, setiap hari, itu keputusan kita. Saat orang lain berbuat kebalikannya kepada kita, itu keputusan dia, yang hanya ada di wilayah yang kita peduli-kan, tapi ga bisa kita ubah. 

Bekerja dengan baik di perusahaan yang sama, itu adalah keputusan kita. Saat yang dipromosikan oleh perusahaan malah bukan kita, itu adalah keputusan perusahaan, bukan kita. Tapi kalo kita mau mendekati bos, mencari muka, mau tampil, cepat menjawab kebutuhan bos di perusahaan, maka itu keputusan kita, yang bisa saja hal ini membuat perusahaan mempromosikan kita.

Dari konsep ini, diajarkan bahwa:

Don’t stress things you can’t control!

Tulisan random ini hanya sebagai pengingat kepada saya pribadi, dan hanya sharing random dari pemikiran saya yang random tentang kehidupan.

Selamat hari Senin!

Berbuat Baik

One Sunday Morning

This morning, in my way to my office, the radio in my taxi was playing this song, and this song, i don’t know why, still keep playing in my head. I though it’s because its sincere lyrics, too beautiful just to be kept by my self. Might you feel it, too.

Ed Sheeran – Perfect

I found a love for me

Darling just dive right in follow my lead

I found a girl beautiful and sweet

I never knew you were the someone waiting for me

Cause we were just kid when we fell in love

Not knowing what it was I will not give you up this time

Darling just kiss me slow

Your heart is all I own

And in your eyes you’re holding mine

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass listening to our favorite song

When you said you looked mess I whispered underneath my breath

But you heard it darling you look perfect tonight

Well I found a woman stronger than anyone I know

She shares my dreams I hope that someday I share her home

I found the love to carry more than just my secrets

To carry love to carry children of our own

We are still kids but we’re so fell in love fighting against all odds

I know we’ll be all right this time

Darling just hold my hand be my girl I’ll be your man

I see my future in your eyes

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass listening to our favorite song

When I saw you in that dress looking so beautiful

I don’t deserve this darling you look perfect tonight

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass listening to our favorite song

I have faith in what I see

Now I know I have met an angel in person

And she looks perfect

I don’t deserve this

You look perfect tonight

One Sunday Morning

Tajam

Ada yang bilang kalo diam itu emas. Memang diam tidak selalu emas, namun jika memang kita tak dapat berkata yang baik untuk tujuan yang baik, maka sebaiknya diam.

Sering dengar kan, orang-orang sukses yang jika ditanya “Apa yang bisa membuat Anda seperti sekarang?

Biasanya, mereka akan menjawab,”Dulu, orangtua saya pernah bilang…” atau “Dulu, guru saya menasehati…” atau “Dulu, dosen saya menegur…” dan lain sebagainya, yang isinya merupakan kata-kata yang menginspirasi orang-orang yang kagum kepada si orang sukses tersebut. Hingga muncul di dalam diri si pengagum motivasi semacam,”Keren banget! Gue juga musti bisa seperti dia.

Well, kata-kata dapat mempengaruhi hidup seseorang.

Saya pernah membaca sebuah cerita pendek, namun lupa cerita tersebut saya dapatkan darimana. Bagi pembaca yang ingat, mohon ditambahkan 🙂

Ada dua ekor katak terjebak di sebuah lubang yang dalam. Satu ekor katak adalah katak normal (semua indranya berfungsi dengan baik), sedangkan katak lain merupakan katak yang tuli. Ternyata, permukaan tanah tak dapat dicapai hanya dengan lompatan biasa, sehingga mereka berusaha sangat keras untuk melompat setinggi-tingginya. Saat sedang sibuk melompat, beberapa teman katak menyaksikan dari permukaan lubang, sambil mencemooh,”Hei, ini terlalu tinggi! Sudahlah, kalian tidak akan berhasil!” Mereka terus berteriak dan tertawa selama melihat temannya yang terjebak di lubang melompat tanpa kenal lelah. Katak yang mendengar ucapan teman-temannya, lambat laun merasa sedih. Dia merasa bahwa dia tidak akan selamat, dia merasa usaha yg ia lakukan sia-sia, dan dia merasa bahwa cemoohan teman-temannya di atas benar adanya. Setiap dia hampir mencapai permukaan, teriakan dan tawa olok-olok temannya terdengar jelas sekali. Dia semakin sedih, dan akhirnya dia merasa sangat lelah. Dia tau dia akan mati, dan dia berhenti melompat. Terlalu lelah dan sedih, si katak normal ini mati di dasar lubang. 

Sementara, si katak tuli, tidak dapat mendengar ucapan teman-temannya. Dia pikir, teman-temannya sedang menyemangatinya. Dia melihat teman-temannya tertawa-tawa dan membuka mulut mereka seperti mengucapkan sesuatu. Dia yakin, teman-temannya sedang menunggu di atas, dan akan merayakan kesuksesannya jika dia berhasil mencapai permukaan. Semakin dekat si katak tuli ke permukaan, semakin jelas dia melihat teman-temannya berteriak dan tertawa, dan semakin semangat pula dia melompat. Tanpa kenal lelah, dia terus melompat, dan akhirnya berhasil mencapai permukaan. Teman-teman si katak tertegun, lalu menyelamatinya. Si katak tuli merasa senang dan bangga, ternyata teman-teman di sekitarnya sangat mendukung dia.

Bisa dilihat perbedaannya?

Yes, kata-kata itu memiliki pengaruh. Kita bisa membuat orang lain termotivasi hingga sukses, atau membuat orang lain menyerah dan mematikan harapannya, dalam hal apa pun dan kapan pun.

Lalu, bagaimana jika kita berhadap dengan orang yang bermulut tajam, layaknya pisau?

pisau

Gambar pisau yang saya peroleh dari dagangan online di indowebster.com, namun saya tidak mencatat nama sellernya. Bagi pembaca yang berminat, silahkan dicari secara manual 🙂

Layaknya cerita pendek si katak, ada baiknya kita menjadi tuli. Kita tuli terhadap kata-kata demotivasi, dan anggaplah kata-kata demotivasi itu merupakan cambuk bagi diri kita sendiri untuk mampu membuktikan bahwa kata-kata itu salah. Jika kita menyerah, maka olok-olok orang itu benar, dan kita terbukti gagal. Balas dendam terbaik adalah dengan pembuktian. No more. At least, hingga detik ini, saya yakin dengan kalimat pendek tersebut.

Menjaga kata itu sulit. Bahkan celetukan yang kita anggap angin lalu, bisa berbeda penafsirannya oleh orang yang mendengar. Apalagi di hari ini, dimana orang-orang mulai putus urat malunya, dengan mudah berkata-kata melalui status di media sosialnya. Tidak ada tatap muka secara langsung menyebabkan orang lupa jika dia punya rasa malu. Coba perhatikan, pernahkah melihat seorang pria di media sosial menuliskan kata-kata indah untuk pujaan hatinya (yang bisa dibaca oleh siapa pun di dunia), tapi tetap aja, si pria ini jomblo dan belum pernah benar-benar menyatakan hal tersebut kepada si calon kekasih. Siapa yang sudah membaca status tersebut? Semua orang.  Tapi, bisakah dia menyatakan tersebut secara langsung? Belum tentu karena dia punya rasa malu, rasa khawatir, dan rasa sedih ketika ternyata cintanya tidak diterima (bahkan sepatah kata iya atau tidak dapat menentukan kondisi psikologis orang di masa yang akan datang).

Diam itu emas, saat kita tak mampu berkata-kata yang baik. Bagitu pula, menjadi tuli itu perlu saat banyaknya ucapan tak menyenangkan ditujukan kepada diri kita.

Selamat mempraktekkannya karena praktek itu sulit, namun perlu 😀

Tajam

Nggeget

Malam hari, 5 Okt 2014, sekitar pukul 9 WITA, seperti biasa, saya menyaksikan salah satu acara di Metro TV.

Ada istilah baru yang saya pahami pada malam itu, yaitu: “Nggeget

It’s a slank Javanese word, which means: rapatkan rahan (hingga gigi menggeletuk satu sama lain).

Apa maksudnya?

Let’s see this little pict that I’ve got from my personal Path:

People

Translation: Jangan pernah meremehkan kekuatan orang-orang bodoh yang bersatu dalam satu kelompok yang sama.

Dengan sangat demokrasinya pemerintahan hari ini, di mana kegiatan rapat di gedung Senayan (yang katanya berisi anggota terhormat dan dapat menyuarakan keinginan masyarakat) dengan mudah dapat kita saksikan dari media cetak dan elektronik yang ada. Well, sadarkah Anda, ternyata yang berada di sana tidak jauh lebih cerdas dari kita, namun kok bisa dibilang terhormat dan bisa menyuarakan isi pikiran kita? Setelah bertahun-tahun dipimpin DPR, lalu ada DPRD, lalu muncul lagi yang namanya DPD, tidak ada perubahan yang signifikan. Toh sudah ada yang namanya otonomi daerah, di mana pemimpin daerah tersebut juga difasilitasi untuk meeting dan studi banding ke ibukota dan/atau negara lain. Lalu, buat apa organsasi perwakilan rakyat yang gemuknya ugal-ugalan?

Ah, terlalu berat. Saya rasa pembaca sudah paham arah tulisan ini mau ke mana.

Kita semua pernah sekolah. Misalnya saja, suatu hari, kita memperoleh tugas kelompok. Semua tugas dikerjakan bersama, namun kita yang paling rajin dibanding yang lain untuk mencari informasi, pasti berusaha untuk mengerjakannya tepat waktu, dan paling bersemangat saat ada tugas baru. Namun saat ujian datang, ternyata nilai tertinggi diperoleh rekan kita yang paling malas mengerjakan tugas, modalnya cuma datang, duduk, dan menulis, minim berpikir, paling tidak semangat (kecuali mau ujian). Dan ternyata, rekan kita tersebut terpilih mewakili sekolah  untuk jamuan makan malam di rumah walikota. Gimana rasanya? Gemas sekali. Kalau pernah merasakan, mungkin seperti ada bola tenis nyangkut di kerongkongan, antara sedih dan marah, kenapa kondisinya bisa begini. Tidak adil. Kita tau kita lebih jujur, kita lebih cerdas, dan pasti kita merasa lebih layak mewakili sekolah.

Inilah saatnya nggeget.

Rapatkan rahang, tahan rasa marah dan sedih, simpan di kamar. Jika ingin menangis, menangislah. Jika ingin marah, sabarlah, hingga gigimu bergemeletuk satu sama lain.

Namun, saat harus keluar dan tampil di depan orang lain, tetap laksanakan tugas sebaik mungkin, dan laksakan tugas melebihi penghasilan yang diperoleh. Orang yang melaksanakan tugas melebihi salary yang ia dapatkan, sebenarnya sedang membuka pintu untuk rezeki-rezeki lain, yang akan datang pada saatnya.

Pernah melihat orang-orang baik, namun tidak terduga-duga, tiba-tiba jabatannya naik,dan dihormati orang lain?

success

Lihat saja calon presiden kita yang akan dilantik pada 20 Oktober 2014 mendatang. Pada tahun 2011 lalu, beliau cuma walikota di salah satu kota di Jawa Tengah. Siapa yang menduga, dalam waktu 3 tahun, beliau berada di Jakarta dan (akan segera) dilantik menjadi presiden? Cool.

Beliau fokus melaksanakan tugasnya, mengerjakan amanah yang diperolehnya. Banyak yang melihat bahwa karir beliau di politik seperti anak panah yang melesat mulus ke atas. Padahal, siapa yang tau sedih dan marahnya beliau, saat banyak  fitnah beredar di masyarakat? Siapa yang pernah melihat beliau curhat di media, dan menyatakan kesulitan hidupnya? Kita tidak pernah tahu, karena pemimpin yang baik (dan orang sukses), selalu menyimpan hal tersebut untuk dirinya.

Biarlah keluah kesah dan sedih itu kita yang tahu. Jika merasakan ketidakadilan, nggeget-lah. Namun tetap laksanakan tugas sebaik mungkin, dan yakinlah rezeki itu bisa datang kapan pun, darimana pun.

Semoga tulisan random ini bisa menjadi inspirasi untuk saya sendiri, dan para pembaca sekalian. Bismillah 🙂

Nggeget

The Red Thread

m08

Foto M’08 satu angkatan komplit, ada 130 orang, sebelum ospek masuk HMM. Foto ini salah satu syarat masuk himpunan. Musti pake baju putih dan harus lengkap satu angkatan. Ampe temen di sebelah saya nyeletuk,”Eh cepetan dong bubar, keliatan nih pake baju putih rame2, cupu masi ospek.”

Dulu, waktu masih ospek buat masuk himpunan, ada tuh motto yang ditekankan kepada kami, bunyinya: “Open mind!

Saya inget banget nih, doktrin ini dicoba ditanamkan sekitar 5 tahun lalu, sore2 di daerah sekitar gedung kuliah. Pake baju kaos angkatan M2008 biru dongker, celana training pembagian kampus jaman TPB, sambil menyandang tas ransel yang isinya hampir selalu sama (1 botol Aqua 1500 ml, ponco/jas hujan, 2 pcs roti Rp 1000-an, sama apa lagi ya. Lupa. Tapi yang jelas ini tas berat banget).

Waktu itu kami diajarkan salah satu tradisi HMM, dimana tradisi tersebut merupakan pesan yang ingin disampaikan dari himpunan, untuk selalu open mind dalam menyelesaikan problema kehidupan (cieee, berat dikit).

Artinya: liat masalah dari segala sudut, jangan langsung ambil kesimpulan dari satu sisi saja.

Kalo saya tambahkan, selalu cari the red thread (benang merah) dari masalah tersebut, sehingga kita tau, kenapa bisa muncul persepsi 1, muncul persepsi 2, muncul persepsi 3, dan seterusnya.

Kalo sudah paham benang merahnya, maka ketika kita melihat media yang menuliskan/menayangkan masalah dengan persepsi 1, maka kita tidak mudah terpancing dan tidak mengambil kesimpulan begitu saja. Kita lebih tenang dan lebih dalam melihat masalah. Dan ke depannya, kita bisa lebih bijak dalam mengambil kesimpulan. Kita menjadi tahu alasannya, mengapa media tsb tidak menuliskan persepsi 2 atau persepsi yang lain, karena kita tahu si media berada di pihak siapa, dan kita tahu si media bermaksud mengarahkan pembaca memahami apa (kalo dari bidang jurnalistik yang pernah saya geluti di masa kuliah dulu, ini istilahnya angleMedia punya peran menggerakkan massa dan mengerahkan emosi orang. Makanya, jangan mudah percaya ama media :p )

Bagi orang-orang yang belum melihat benang merah dari suatu masalah, maka akan mudah berkomentar (bahasa kerennya, men-judge) orang lain yang punya persepsi berbeda.

Namun, bagi orang yang memahami benang merahnya, akan lebih santai, dan cuma komentar,”Lo ngomong doang bisanya. Kayak politisi.

The Red Thread