Mengisi Gap

Setelah menjadi murid sekolah di Indonesia selama hampir seluruh hidup saya, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi (masih Indonesia juga) di Bandung, telah beberapa kali saya merasakan pendidikan yang menunjukkan junior-senior. Kira-kira begini: kalo junior salah, atau kurang tepat, atau berbeda, maka akan di-bully, di-marahin, atau di-arah-arahkan agar si junior ini mengakui bahwa dia berbeda dengan yang sudah ada. Yang sudah ada ini bisa budaya, kebiasaan, aturan, atau apa pun yang ‘udah dari sananya begitu’.

Kenapa saya ga cocok (dan ga akan setuju), dengan pendidikan senior-junior/ospek?

Karena sekarang pendidikan berdasarkan senioritas/ospek sudah tidak dibutuhkan di dunia belahan mana pun.

Why?

Because people demands respect, no matter how old they are.

Hampir di setiap acara yang saya hadiri pesertanya orang Indonesia dengan budaya yang masih ‘Indonesia banget’ (yang sebagian besar orangnya merupakan hasil pendidikan senioritas/ospek yang membudaya di sekolah yang ‘Indonesia banget’). Di saat ada yang presentasi atau berbicara di depan publik, maka si penonton atau yang diberi presentasi asik ngobrol sendiri, main hape sendiri, bikin forum/diskusi bareng kelompoknya, bahkan keluar/masuk ruangan. Akan lebih baik jika memang ga berminat/ga butuh dengan presentasi tersebut, mereka keluar ruangan daripada mengganggu orang2 yang emang membutuhkan informasi tersebut.

Begitu juga di dalam dunia pekerjaan. Di saat ada rekan kerja yang:

  1. Jabatan lebih rendah.
  2. Usia lebih muda.
  3. Jabatan lebih tinggi tapi beda bagian.
  4. Kenal tapi ga deket2 amat, alias jarang ngobrol atau jarang omong-omong kosong bersama.
  5. Or something like this.

Maka saat rekan kerja ini yang butuh bantuan , maka akan kurang diprioritaskan. Lain halnya jika tiba-tiba bos sendiri yang meminta mereka melaksanakan tugas tersebut,maka akan ditindak lanjut dengan cepat, tepat, gesit, bahkan diusahakan terlihat. Padahal, isi tugasnya sama saja dengan yang diminta oleh rekan2 sendiri. Bingung kan (?).

Dan saya yakin, semua berasal dari budaya pendidikan dasar kita di bangku sekolah yang masih junior-senior/ospek.

Rather than ngajarin attitude, tapi pendidikan dasar kita masih sibuk dengan ngurusin agama, harus menghormati yang lebih tua, harus ini-itu, kalo makan ini masuk neraka, kalo mati baca itu masuk surga, dan lain sebagainya, yang sebenarnya bisa dibikin simple : punyalah attitude.

Less is more.

Di awal tahun 2014, seorang trainer menggambarkan ini di papan tulis untuk para peserta pendidikan BPS 2013:

Ilustrasi
Gap (kekosongan atau rentang) antara keadaan sekarang dengan keadaan yang dibutuhkan.

Jika kita dapat memperkecil (atau menghilangkan) gap antara keadaan dengan kebutuhan, maka kita akan dibayar. Semakin besar gap-nya, maka akan semakin besar pula bayarannya.

Misalnya: ongkos taxi-burung-biru lebih tinggi daripada ongkos metro-mini

Bayangkan, naik-turun metro mini itu sambil si metro mini jalan! Dulu saya pertama kali naik metro mini di tahun 2000-an. Saya bergumam dalam hati, gila banget nih, beneran ga ada kendaraan lain yang waras? Gw mempertaruhkan hidup gw demi ongkos 2ribu perak, tapi kalo gw jatoh kepala bocor, kaki patah, dll, harganya ga segitu juga kaliii. Belum lagi ada pengemis berjubah preman, naik ke metro mini sambil baca puisi yang isinya ngancam “kalo gw ga dikasi duit awas aja lo pada“.

Gara-gara hal tersebut, saya bela-belain menghemat ongkos2 lain demi bisa naik taxi-burung-biru di kala itu (mengingat ongkos dari orangtua juga pas-pasan) buat ngelamar kerja dari satu gedung ke gedung lain. Gapapa deh mahal, atau saya ga makan siang/malam, yang penting saya aman, kepala-kaki utuh, dan naik-turun kendaraan saat kendaraan berhenti (bukan jalan, coyyy).

Itulah gap yang diisi taxi-burung-biru: keadaan yang ga nyaman vs keadaan yang dibutuhkan:  aman & nyaman. Berhasil mengisi kebutuhan dan orang mau bayar mahal demi memperoleh hal tersebut.

Begitu juga respect.

Respect itu bukan cuma dibutuhkan senior atau bos, tapi semua orang butuh respect, ga peduli umurnya berapa. Semakin ga punya respect (atau attitude), maka makin malas orang (atau perusahaan) membayar kita. That’s why, budaya senioritas/ospek sebaiknya cepet-cepet aja dievaluasi (alias dihilangkan) karena emang dah ga dibutuhkan di belahan dunia mana pun.

Dan that’s why juga, kenapa perusahaan yang ‘Indonesia banget’ sebaiknya segera mengevaluasi sistem junior-senior/ospek karena orang yang layak dipromosikan bukanlah orang yang lebih senior, namun orang yang memang berprestasi. Hei, kita akan menghadapi pasar terbuka ASEAN, dan kita diminta bersaing secara fair, ga pake nangis atau menye-menye di tengah persaingan tersebut. Yang berkualitas akan diakui masyarakat, perusahaan akan mempertahankan, memperpanjang kontrak, merekrut orang-orang tersebut, dan yang tertinggal akan semakin ditinggal, ditambah lagi saran/kritik yang mudahnya dituliskan di sosial media.

Jadi, masih bangga nulisin saya Indonesia (?).

See ya at the next post.

Mengisi Gap

Jalan-jalan ke Malang, Jawa Timur

Saya terakhir kali ke Malang sekitar tahun 2004 atau 13 tahun yang lalu, saat study tour di bangku SMP. Tanpa sengaja, atau memang rejeki, dikasih lagi kesempatan ke Malang selama 1 minggu sebagai utusan perwakilan perusahaan di event anak perusahaan di bidang hulu migas plat merah.

Perjalanan dari field di Kalimantan Utara ke Malang di Jawa Timur, menghabiskan waktu total perjalanan 8-9 jam. Berangkat jam 7 pagi, tiba di Malang jam 4 sore. Melewati laut, darat dan udara, komplit kami seberangi demi mencapai kota ini tepat waktu. Paling tidak, kami masih sempat beristirahat dan mempersiapkan diri untuk mempresentasikan makalah kami.

UIIA 2017
Wajah lega setelah mempresentasikan makalah. Ki-ka: Brando Sitinjak, Philip Albert Hutapea, saya, Muktar Ahmad, Benny Kawira, Frizal Vicha Putra

Di sini kami dapat kesempatan untuk menyaksikan makalah dari anak perusahaan lain, topik apa yang mereka angkat, bagaimana kualitas presentasi, kostum, dan cara penulisan mereka. Yang tentunya, kami dapat pengalaman yang sangat berharga: sebaik apa pun kualitas makalah yang dibawa, semua tergantung seberapa beruntung kamu mendapatkan juri yang memahami seberapa bermanfaatnya case yang dipecahkan dan dampaknya terhadap perusahaan.

Bahasa gampangnya: ada campur tangan Tuhan. Eaaa.

Ternyata, kota Malang merupakan kota yang menarik. Cuacanya adem, mirip seperti di Bandung. Sebagian merupakan tanah militer, pemerintahan, dan banyak pepohonan. Hari pertama saya di Malang, saya sempatkan jalan ke Car Free Day (CFD) di Idjen Boulevard.

IMG_4636
CFD di Idjen Boulevard

Jajanan di CFD: mangga alpukat – lekker Jakarta – cilok Bandung 😀 😀 😀

Di hari terakhir, kami dapat kesempatan mengunjungi museum angkut di Batu. Kalo mengunjungi museum, jika tidak bersama rombongan yang punya agenda yang mepet, sepertinya waktu berjam-jam bisa saya habiskan sendirian sambil mengamati benda-benda otentik tersebut. Membayangkan bahwa si benda telah ‘lahir’ di jaman old, dan dapat bertahan hingga jaman now, menjadi saksi bisu sejarah.

IMG_5094
Parade tokoh-tokoh super human seperti di Hollywood. Diajak dugem bareng di bawah panasnya matahari Malang jam 10-an. Panas banget, tapi seru dan kocak 😀
IMG_5081
Miniatur Las Vegas
IMG_5078
Miniatur pojokan London sekitaran tempat tinggalnya Queen Elizabeth.
IMG_5067
Miniatur pecinan dan stasiun Jakarta kota
IMG_5068
Ada juga miniatur toko-toko jaman old, bungkus-bungkus rokoknya pun jaman old.
IMG_5070
Bungkus2 rokok

Ternyata, di dalam museum angkut ada musem lagi, namanya ‘Museum Indonesia Heritage’. Kalo orang-orang makan nasi kotak berlama-lama sambil ngobrol ngalor-ngidul di pinggir kali buatan, maka saya manfaatkan sisa waktu melipir masuk ke ruangan yang ga terlalu besar di pojokan museum angkut.

Saat saya masuk ke museum, ada mbak-mbaknya yang nyamperin saya, yang ngejelasin semua barang-barang di sini secara detail dan menarik.

IMG_5096
Topeng-topeng dari aneka daerah di Indonesia.
IMG_5097
Ada batik-batik asli, asalnya juga dari seluruh Indonesia

Barang-barang di sini berasal dari pelosok Indonesia, bahkan saat masyarakat belum mengenal ke-Tuhanan, masih menyembah batu, di sini juga ada batu-batu tersebut. Ada juga batang-batang pohon yang dimuliakan, yang ada ritual khusus untuk memuja benda-benda tersebut. Menarik (dan mistis, sih).

Semoga ada kesempatan main ke Malang lagi 🙂

Jalan-jalan ke Malang, Jawa Timur

Satu Minggu di Tanah Sulawesi

Layaknya 2 tahun yang lalu, di awal tahun 2017 ini, saya iseng mengirimkan curhatan dan kegiatan perbaikan yang kami lakukan di field, yaitu mengenai perbaikan multistage pump yang digunakan sebagai pompa injeksi. Kalo dua tahun yang lalu diadakan di Bali, maka tahun ini diadakan di Makassar. Kalo dua tahun yang lalu, masih sedikit teman-teman seangkatan yang saya temui di forum ini, namun tahun ini, ternyata banyak yang ikut dan bisa dijadikan ajang reunian kecil-kecilan.

Saya menulis tentang berulang-ulangnya perbaikan dan troubleshoot pompa. Sebenarnya, perbaikan pompa ini telah menjadi success story dan kebanggaan tersendiri untuk field kami. Hal ini juga telah kami tuliskan dalam risalah yang kami ikutkan juga ke forum IIA (Improvement and Innovation Awards) 2016 yang memperoleh predikat Silver. Meski hanya  berpredikat silver, namun dampak langsung telah dirasakan oleh field kami, yang pada intinya adalah mencegah losses produksi akibat kerusakan pompa injeksi air.

Kenapa rusaknya pompa injeksi dapat menyebabkan losses produksi? Karena tidak dibenarkannya pembuangan air terproduksi (air yang telah dipisahkan dari minyak mentah) ke alam bebas, namun harus dikembalikan ke formasi (alias dikembalikan lagi ke dalam tanah tempat asalnya si minyak mentah). Kalo pompa rusak, maka air terproduksi ini akan ditampung di tanki air, lalu jika dibiarkan tanki penuh tanpa adanya perbaikan pompa, maka sumur2 yang memproduksi minyak harus ditutup supaya airnya ga tambah banyak.

Gimana ceritanya perusahaan minyak malah nutup sumur minyak? Hal ini ga dibenarkan dalam bisnis eksploitasi migas.

Nah, alternatif perbaikan pompa injeksi inilah yang berhasil kami di lapangan lakukan. Bukannya terpaku membeli rujukan spare part logam sesuai saran text book, namun kami coba ganti dengan material lain berbahan nylon yang bisa dibeli di pasar, lalu dibubut sendiri, lalu dipasangkan di pompa.

Ide ini muncul di awal tahun 2015, dari anggota pompa yaitu pak Zainul dan bos mekanik saya saat itu, almarhum Marthen Latuperissa.

Perpisahan Pak Marthen
Perpisahan dengan Alm. pak Marthen di awal tahun 2016 yang lalu

Tribute untuk pak Marthen, bos sekaligus mentor saya selama dua tahun pertama di field ini. Akhirnya saya tulis paper ini, lalu saya masukkan ke event dua tahunan FSTH (Forum Sharing Teknologi Hulu) 2017 yang tahun ini dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Ternyata saya diundang untuk sharing knowledge di sana kepada rekan-rekan lainnya. Dan berkat undangan ini, untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di tanah Sulawesi.

IMG_9578
Ga sengaja ketemu temen2 mesin 2008 yang seangkatan waktu kuliah. Ki-ka: Pradipto Sulaksono (PEP), Saya, Wayan Raka Regawan (Persero)

Sore-malam hari saat waktu kosong, saya dan kawan2 tentunya mengisi waktu dengan jalan-jalan, dan tentu saja, makan2 enak khas Makassar. Semuanya enak dan penuh bumbu.

IMG_9421
Makan ikan bakar lupa nama restorannya apa. Ki-ka: Fahmi Maulia Putra, Nicky Leonard Nasution, Saya, Dessy Puspitasari.

Trus makan baso atiraja, makan palubasa, mie titi, es pisang ijo, dan masih banyak lagi. Yang jelas, kalo ga inget ngerem, celana jeans bisa-bisa jadi kesempitan setelah 1 minggu di Makassar. LoL.

IMG_9599
Bareng temen2 dari Bunyu Field yang sama2 mempresentasikan paper. Ki-ka: Dessy, Randy, Saya, Amri, Revo
presentasi-dini-4-e1511161032753.jpg
Presentasi
Presentasi Dini (5)
Menerima plakat presenter dari pak Setyo Pratomo (bos Surface Facilities pusat). Kenapa sik lampu proyektornya ga dimatiin dulu. LoL.

Di hari terakhir, saya ikutan jalan-jalan dengan para Geologist. Karena forum ini dipanitiai oleh Upstream Technology Center (UTC), maka acara di hari terakhir diperuntukkan bagi para Geologist dan yang berminat ikut. Karena saya gatau mau kemana (sebenernya diajakin Dessy jalan2 bareng temen2 Sangatta, tapi karena ga  ngepas dengan jadwal flight saya, maka saya ga jadi ikut mereka), lalu saya mempertimbangkan untuk ikut jalan2 dengan para Geologist tersebut, mumpung masih ada slot kosong di field trip. Akhirnya, nyeliplah saya di antara para Geologist ini. Ga sengaja, ngobrol dengan mbak-mbak di bis, dan ternyata doi senior saya waktu SD-SMP di KPS di Balikpapan. Dunia sempit banget 😀

Dan ujung-ujungnya saya ga ngerti apa yang diomongin selama di perjalanan. Yang saya tau, saya bisa dapet jalan-jalan ngeliat alam di Sulawesi Selatan, salah satunya ke taman nasional Bantimurung. Kalo yang saya liat itu adalah batu, maka para Geologist akan ngomongin sejarah si batu, dan asal muasal kenapa batu itu terlihat atau tenggelam di dalam tanah, dan ngomongin teori gimana batu tersebut berpotensi mengandung minyak, gas, atau ga ngandung migas tapi cuma si batu, dan lain sebagainya. Akhirnya saya ikut foto2 lah ya, lumayan buat kenang-kenangan :p

IMG_4283[1]
Bareng temen2 Geologist yang baru kenalan on de spot 
IMG_4286[1]
Air terjun Bantimurung, Sulawesi Selatan, Indonesia
Jika para Geologist ngeliatin batunya, maka yang saya liat di Bantimurung adalah potensi wisata dan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Meski air di sana melimpah, tapi toiletnya ga terjaga kebersihannya. Dari beberapa ruang toilet, hanya sebagian yang ada airnya, itu pun ngalir terus menerus, tapi toilet lainnya ga ada air sama sekali. Berkebalikan ya 😦

Moga ide-ide inovasi dan bisnis segera berkembang di pengelolanya karena dunia ini bergerak cepat dan penuh inovasi. Kalo kita jalan di tempat, kita ga akan kemana2, dan bisa ketinggalan di berbagai aspek. Ceilah.

Well…

Sampai jumpa lagi di forum sharing selanjutnya 🙂

Satu Minggu di Tanah Sulawesi

Ngebengkel

Waktu kuliah di Bandung, ada praktikum wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa Teknik Mesin yang diadakan sekitar semester 3 atau 5, saya lupa. Pokoknya di pertengahan ajaran kuliah.

Nama mata kuliahnya adalah Proses Manufaktur 1 dan Proses Manufaktur 2. Biasanya disingkat Prosman. Selain kuliah wajib, kampus mengadakan praktikumnya juga, yang penilaian praktikum nyaris ga ngaruh ke indeks kumulatif karena cuma dibobotkan sekitar 10%, tapi ngaruh ke syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Syaratnya, supaya lulus Prosman, kami harus hadir di semua praktikumnya.

Jaman dulu, saya ga ngerti apa gunanya Prosman dan aplikasinya di dunia nyata. Waktu praktikumnya pun, saya ga berminat sama sekali ngikutin praktikumnya karena terlalu bengkel banget yang dikombinasikan dengan teori metrologi industri yang ternyata oh ternyata, njilemit luar biasaahh.

Prosman itu sebenarnya udah paket sederhananya kegiatan bengkel, tapi kalo mau tau alasan apa dan kenapa bisa menggunakan tools seperti di bengkel, maka bisa belajar di metrologi industri (mata kuliah paling absurb tapi berguna di bidang manufaktur. Gampangnya, kalo ga ada ilmu metro, maka kita ga akan bisa naik mobil/motor/pesawat/kapal kayak sekarang).

Praktikum Prosman itu sebenarnya, bahasa awamnya, bisa dibilang: “Ngebengkel“. Kami belajar membubut, memahat, mengelas, memotong, mengecat, mengebor, hingga kerja pertukangan yaitu kerja bangku (atau bahasa kerennya: work bench).

Dulu saya pikir, ya ampun, ngapain sih saya kotor2 gini, emang mo dipake di mana?

Jawabannya: Dimana-mana.

Ngelas
Pengelasan Support Pipa

Kalo di Pertamina, khususnya di Pertamina EP Bunyu, kegiatan bengkel ini dilakukan oleh Mekanik, lebih tepatnya, dilakukan oleh Mekanik – Bengkel Umum (BU).

Apa aja yang mau kita perbaiki, kita bawa aja ke BU. Misalnya, kalao saya: mau ngasah pisau dapur yang mulai tumpul.  Saya bawa aja tu pisau ke BU. Minta tolong pak Hairul atau Pak Dahlan atau Pak Marjito, maka akan mereka gerinda sebentar, dan langsung tajam lagi pisaunya. Atau misalnya kita kehilangan tutup botol, maka kita bisa minta  dibuatkan tutup botol baru di BU. Pak Marjito akan membubut sebentar, dan tutup botol tsb bisa segera kita gunakan.

Pasang Papan
Pasang Papan

Nah tadi pagi, saya ngemonitor kerjaan BU yang dibantu oleh tim kompresor dan tim pipeline. Bersyukur, load kerjaan di bagian lain sedang low sehingga tenaganya bisa dialihkan untuk membantu kegiatan di dermaga. Pekerjaan kami mulai pada pukul 8 pagi.

Struktur dermaga ini mulai rapuh. Kalo tiang-tiang bajanya itu kita hammer, maka karatnya langsung rontok dan berhamburan ke laut. Hal yang menahan dermaga tsb masih belum ambruk adalah beton yang dicor di dalam selongsong pipa baja yang tertancap hingga ke dasar laut.

Nancap
Tiang-tiang yang Mulai Rapuh
Mancing
Break bentar sambil mancing

Dari dulu, kalo praktikum Prosman (alias ngebengkel), saya paling menghindari kegiatan yang menimbulkan panas dan bunga api, yaitu: pengelasan. Pengelasan itu sulit, kalo ga pinter (dan ga punya sertifikat), maka filler las itu ga akan mengisi daerah yang mau kita sambung. Oleh sebab itu, para anggota mekanik yang dedicated untuk mengerjakan pengelasan selalu disertifikasi secara rutin oleh kantor.

Saat melakukan pengelasan, orang ybs juga musti pake face shielded karena bunga api yang timbul dari pengelasan itu bisa membahayakan penglihatan. Mirip kayak kalo kita memandang matahari. Ga kuat kan? Iyah, itu memang berbahaya dan bisa bikin mata kita katarak. Makanya face shielded ini musti dipake.

Ngelas(3)
Ngelas pipa

Dan pengalaman saya, saking protektifnya face shielded ini terhadap penglihatan, maka saya ga bisa ngeliat sebenarnya filler las saya itu ngisi kemana 😐 Ribet? Iya. Banget.

Jadi, buat yang punya sertifikasi ngelas dan selalu lulus tes x-ray hasil pengelasannya, thumbs up. You are super cool. 

 

Cutting
Motong plat dengan gas oxygen-acetilen
Ngelas(2)
Bloopers: Warna-warni coverall anggota

Ngomong-ngomong soal coverall yang warna-warni, anggota saya sempat nyeletuk kayak gini:

Mas Budi: “Mbak Din, orang-orang ni heran kali kalo liat kita kerja. Ini yang kerja PT apa? Kok bajunya lain-lain.”

Pak Hairul: “Iya lah, orang-orang ni sambil mikir juga,’Hebat ya Pertamina, ngontrak vendor banyak kali buat ngerjain satu kerjaan aja'”

Saya: Diem aja, gatau mo ngomong apa menanggapi sinisme anggota.

Ujung-ujungnya, kami cuma menertawakan kehidupan, sambil terus melanjutkan kegiatan.

Makan Siang
Makan siang di pinggir laut. Urutan dari atas ke bawah: Pak Maryono (mekanik SKG), Pak Sagiman (driver mekanik), Mas Budi (mekanik SKG), Pak Hairul (mandor BU)

Pekerjaan ini akhirnya selesai pukul 5 sore berkat mandor Hairul yang lincah dan sangat disiplin. Super cool. 

Akhirnya, besok kembali kerja (lagi), dan memasuki bulan Ramadhan (lagi).

Selamat malam, selamat istirahat, selamat bekerja (lagi), dan selamat berpuasa 😀

 

Ngebengkel

Jalan-jalan

Kalo orang2 butuh modal (uang dan waktu) yang relatif sangat besar berlibur ke Derawan, hal ini tak berlaku bagi kami2 di pulau terpencil ini karena Derawan juga sama2 terpencil. Haha. Tawa datar.

Di akhir bulan April 2016, kami, rombongan kecil ber-15 orang dari Bunyu, mengunjungi Maratua-Derawan-Kakaban. Cukup dengan modal sekitar 1,5 juta per orang, kami sudah dapat bermalam di Maratua dan Derawan selama 3 hari 2 malam.

Mengunjunginya pun tanpa perlu mengambil cuti karena kami mengambil jatah day-off 1 hari di hari Jum’at. Kami memanfaatkan waktu selama Jumat-Sabtu-Minggu di pulau Maratua, Kakaban, dan Derawan. Dengan harga segitu, sudah termasuk layanan speed pulang pergi Bunyu-Derawan, layanan snorkeling Derawan-Maratua-Kakaban, menyewa alat snorkeling, kamar tidur, dan makan. Lengkap dan ga kelaparan.

Hari pertama, kami mendarat di pulau Maratua.

Maratua
Mendarat di Maratua Paradise Resort
Setelah menempuh waktu selama 4 jam Bunyu-Maratua, akhirnya kami mendarat di Maratua Paradise Resort (MPR), tapi tentunya bukan di resort tsb kami menginap. Kami menginap di losmen sederhana berjarak sekitar 2 kilo dari dermaga MPR. Satu kamar berisi 2-3 orang, kamar mandi dalam, air payau, dan listrik dari genset solar. Air payau ini maksudnya bersumber dari air laut yang udah difilter. Kalo sempat nyicip, rasanya mirip2 oralit (itu lho, obat kalo diare).

Sore harinya, kami langsung jalan kaki dari losmen menuju MPR untuk snorkeling.

Maratua(2)
Foto Dulu. Dessy-Atina-Saya. Photo taken by Fauzi.
Cuacanya panas banget ga santai. Bahasa pelancongnya, cuaca cerah banget, cocok untuk nikmatin laut dan pantainya. Yang jelas, saat itu cuaca sangat bersahabat dan sedang low season. 

 

Esok harinya, pak Alfiyan (bos SCM kala itu), udah mondar-mandir di depan kamar losmen. Fauzi bantuin mengetuk pintu kamar kami sehabis subuh. Siapa yang telat, mereka tinggal karena mereka mau berburu matahari terbit pagi itu.

Maratua(6)
Jalan kaki menuju sebelah timur pulau Maratua
Kalo ada yang bilang Indonesia itu indah, sayangnya, saya ga bisa bilang gitu. Saya ga bisa boong dan ga bisa ikut-ikutan. Indonesia itu ga mampu menjaga kebersihan 🙂

Kalo semua orang berebut memotret yang indah, saya ga bisa mendiamkan diri dan pura-pura ga liat tumpukan sampah yang terdampar di pojok Maratua. Sampah ini mengumpul di pojok dermaga.

Padahal, sepanjang perjalanan kami menuju pojok timur, kami melihat banyak penyu. Beberapa kali mereka menampakkan diri dan berenang di sekitar kami. Daerah yang mereka renangi masih bersih, tapi sampah2 yang menumpuk di pojok2 pulau ini, kalo dibiarin dan semua pura-pura menutup mata, saya gatau apa lagi yang mau dijual dari pulau ini.

Maratua(7)
Tambahan Jalur Dermaga Baru
Saat tiba di ujung dermaga, pak Alfiyan terkagum-kagum dengan tambahan dermaga ini. Maklum, beliau diver sejati yang udah beberapa kali ke pulau ini, dan baru hari itu beliau melihat tambahan dermaga yang bagus. Ternyata, dermaga tsb memang baru saja ditambah oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di tahun 2015 (sesuai papan namanya). Ditambah lagi, Maratua saat ini sedang dibangun bandara untuk memudahkan akses transportasi ke pulau ini.

Maratua(9)
Resort terpencil yang menghadap matahari terbit

Maratua(10)
Udah kesiangan, mataharinya mulai tinggi
Lalu kami snorkeling lagi seharian sambil melanjutkan perjalanan ke Kakaban dan Derawan.

Derawan
Mendarat di Derawan saat magrib

Derawan(5)
Resort MKI Derawan saat malam hari
Resort MKI Derawan ini cukup hi class dan diisi banyak bule.

Kami hanya lewat MKI sebentar, menikmati bulan penuh, selonjoran di pojok dermaga, sambil ngobrol2 dan menertawakan kehidupan. Malam itu kami hanya berlima, yaitu Saya, Dessy, Atina, Uda Hendrizal, dan Fauzi.

Kami melanjutkan jalan santai mengelilingi pulau Derawan di sepanjang jalur pantainya yang cuma butuh waktu sekitar 2 jam (saking santainya jalan kaki). Kalo sambil lari atau jalan cepat, sepertinya cuma butuh 30-45 menit untuk mengelilingi pulau ini.

Di Derawan dan Maratua, meski sama-sama terpencil, tapi mereka ga ada hiburan malam seperti di Gili Trawangan (kalau kalian pernah ke sana). Saya akui, untuk urusan kebersihan dan ketertiban, Gili Trawangan masih lebih baik dibanding Derawan dan Maratua. Pengaruh asing itu memang perlu sih.

Malam itu sebenarnya kami berencana melihat penyu bertelur di pantai Derawan, yang katanya bisa dilihat sekitar tengah malam. Namun, karena kami sangat lelah, kami putuskan kembali ke kamar dan beristirahat untuk fun diving esok hari.

Fun Divers(2)
Sayaaa
Besok paginya, kami sempatkan fun diving bersama mas Icuk.

Selain Pak Alfiyan dan Uda Hendrizal, kami (Saya, Dessy, Atina, Fauzi, Benny, dan istri Benny), belum ada yang punya sertifikat diving. Nah, mas Icuk (instruktur diving kami hari itu) ngasi jasa instruktur dan penyewaan alat diving di sekitar MKI resort. Kedalamannya hanya sekitar 4 meter, jadi ga terlalu bahaya kalo tiba-tiba kita ngapung ke atas. Untuk menyiasati tekanan di telinga yang terasa semakin membesar saat menyelam, bisa disiasati dengan menelan sambil tahan napas (kayak sedang naik pesawat) untuk menyiasati perubahan tekanan antara permukaan air dengan bawah laut.

Fun Divers
Istri Benny, Benny, Saya, Dessy, Atina. Mas Icuk yang sedang melayang di atas kami
Foto selama fun diving credit to Uda Hendri.

Ternyata si Uda Hendri udah menyiapkan poster sederhana untuk bisa kami pakai foto-foto di dalam air. Poster ini berisi ucapan selamat berpisah buat pak Alfiyan karena beliau akan segera dimutasi ke Pertamina Geotermal Kamojang. Pak Alfiyan, saya ikut dong,Pak.

Kesimpulannya: Diving itu ternyata SERU BANGET!

Buat yang masih ragu mau ambil sertifikasi diving karena biayanya yang ga murah (yang mencapai 5 jutaan rupiah) dan masih ragu apakah diving akan cocok/tidak sebagai hiburan, fun diving ini bisa digunakan untuk mencari tau. Cukup dengan 350ribu ajah, kita dah bisa diving dengan aman di sekitar MKI Resort Derawan, udah termasuk perlengkapan dan instruktur yang keren asik kayak mas Icuk.

Hari itu asik banget.

Jauh lebih asik daripada snorkeling di permukaan laut ajah.

Kalo snorkeling, sebenernya saya lebih sering ngerasa mabuk gara-gara terombang-ambing di permukaan air. Ada perahu dan orang-orang yang bergerak-gerak di permukaan air menyebabkan airnya naik-turun ga tentu. Tapi, kalo diving, rasanya asik banget. Cuma ada diri kita sendiri yang sedang menikmati isi laut 🙂

Saya ga nyangka ternyata diving semenyenangkan itu. Super fun.

Setelah diving, kami berkemas, makan siang (yang sederhana tapi enak banget), dan melanjutkan perjalanan menuju Bunyu yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Bersyukur, hari itu speed kami melaju lancar tanpa hambatan mengarungi lautan Kalimantan.

Cheers.

Jalan-jalan

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Aku menulis ini saat malam hari di pertengahan Mei 2016 di pulau Bunyu, Kalimantan Utara, dengan cuacanya dingin. Terasa dingin karena AC di kamar aku setel di tempratur 20 deg C.

Malam ini aku baru selesai membaca buku tulisannya Pidi Baiq, judulnya Dia adalah Dilanku 1990 (Buku pertama) dan Dia adalah Dilanku 1991 (Buku ke-2). Ke-2 buku ini aku habiskan dalam 3 hari, yang aku sempatkan membacanya di waktu senggangku setelah jam kantor atau saat aku telah tiba di rumah dinas. Yang aku ingat, kemarin aku baru dari lokasi yang panas (lebih tepatnya, terasa sumuk. Bahasa Jawa,artinya: gerah bikin keringetan lengket padahal cuaca mendung) plus digigitin nyamuk. Tiba di ruang kantor yang ber-AC, aku sempatkan santai sejenak. Meski bel berakhirnya jam kantor sudah dinyalakan, aku sempatkan minum air dingin di kantor dan melanjutkan membaca buku mang Pidi di kantor hingga sebelum magrib tiba.

Awalnya, aku mengetahui si mang Pidi Baiq ini adalah saat aku bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusku dulu (sekitar tahun 2008-2009), saat kami mau mengangkat tokoh mana yang mau kami ulas di edisi majalah Boulevard ITB  terbaru. Maka, terpilihlah si Pidi Baiq, yang akhirnya aku ketahui orang itu agak unik dari teman satu unit yang dapat tugas untuk menulis halaman tentang dia. Teman saya ini si anak elektro 2008, terus dengan hebohnya cerita pengalamannya,”Kan urang mau interview yah, terus dia (Pidi Bagiq) bilang,’Eh tunggu dulu, saya ga mau difoto. Saya ambilin foto saya aja ya.’” Saya dan kawan-kawan yang dengar itu spontan ketawa, plus aku pribadi mikir astagaa, ada ya orang kayak gitu? Hahaha.

Selanjutnya aku pernah bertemu beliau saat ikutan workshop yang diadakan Kompas Gramedia di salah satu cafe di daerah Dago (sekarang cafe ini sudah tutup, beberapa kali ganti nama usaha, kalo sekarang aku kurang tau jadi apa) pada tahun 2008-2009an juga. Saat itu tampillah band The Panasdalam, diimami oleh mang Pidi Baiq, yang lirik-liriknya bikin aku mikir. Bukan mikir apakah arti lirik lagu itu? , tapi lebih mikir ke astagaaa, ada ya lirik lagu kayak gitu? Maksudnya apa??? Hahahaha. Kocak. Asli. Tapi saat itu aku ga ketawa, soalnya aku sambil mikir saat mereka nyanyi.

Nah, lanjut.

Seminggu yang lalu aku sempatkan jalan ke Kwitang, Jakarta, melihat-lihat buku yang sekiranya bisa  dikonsumsi untuk menemaniku selama bertugas di Bunyu. Itulah pertama kalinya aku ke Kwitang, dan aku pun hampir kalap untuk membeli semua buku yang terlihat karena ditawari harga sangat murah dan masih bisa ditawar. Syukurlah, ku hanya ambil beberapa buku, dan godaan lainnya kutahan sambil membisikkan ke diri sendiri lihat dulu kualitas beberapa buku yang kamu beli, Din. Kalo oke, bisa lanjut beli di sini. Kesimpulan: ada harga, ada kualitas.

Nah, saat lagi melihat2 buku inilah, di salah satu toko, si abang buku nawarin,”Ini juga lagi laris lho, Dilan.” Sesaat aku jadi ingat cuplikan film Dilan yang akan tayang di bioskop dalam waktu dekat. Saat ditawari buku tsb, aku cuma lihat aja sampulnya, tapi ga beli di Kwitang. Aku akhirnya memilih membelinya di Gramedia Ambas, sehari sebelum kembali terbang bertugas. Cieeeeee, bertugas.

Dan malam ini, aku sudah membaca ke-2 buku tersebut secara berturut-turut, maka muncullah baper (kebawa perasaan. Bahasa gaul kekinian). Ada banyak hal menarik dari buku ini, beberapanya:

  1. Ini beneran ditulis Pidi Baiq, kan? Kalo bener, aku bener-bener kagum dan masih penasaran gimana caranya dia bisa ambil angel seorang wanita yang sedang mengenang masa SMA-nya. Sempat aku mengecek popularitas buku ini di instagram,dan menemukan, kebanyakan pembacanya adalah wanita yang ngasih komentar2 pribadi yang intinya: buku ini bagus. Bener2 bisa bikin cerita dari sudut pandang anak cewe labil yang dikit2 ngambek, dikit2 bete, dikit2 ngancem putus, drama, dan kekonyolan pacaran saat remaja. Lucu 🙂
  2. Setting-an buku ini berada di Bandung pada tahun 1990-1991, dilengkapi gambaran suasana Bandung saat itu yang sejuk, belum banyak gedung tinggi dan belum ada aneka keriweuhan Bandung hari ini. Maka buku ini berhasil membawa saya ke settingan emosi anak cewe abg, disertai dengan imajinasi saya berkeliling Bandung.

Setelah membaca buku ini, aku langsung flash back  ke masa-masa ku masih TK-SD di Bandung sekitar tahun 1994-1995an. Kenangan masa kecil di Bandung ini juga yang bikin aku punya cita-cita mau kuliah di Bandung (waktu SMA). Dulu belum benar-benar men-set mau kuliah di kampus mana, tapi pokoknya mau balik sekolah di Bandung karena pengen di Bandung lagi. Dan kenangan masa kecil itu benar-benar membuat saya selalu kembali ke Bandung, pada akhirnya.

Bandung itu ngangenin, dan akan selalu begitu.

Terimakasih, mang Pidi Baiq atas buku bapernya. Selanjutnya aku akan membaca semua buku-bukumu, termasuk kalo kisah Dilan-Milea ini berlanjut.

Rasanya kalo aku punya keinginan yang bisa terwujud dengan segera, maka aku mau besok sudah terbangun di Bandung, di kamar kosku saat masih kuliah, di Dago.

Selamat malam, kamu, yang sudah membaca tulisan ini. Terimakasih 🙂

Dia adalah Dilanku 1990-1991

Pintar

Kata guru agama saya waktu SD, tidak boleh menyimpan rasa iri kepada orang lain. Misalnya, teman saya punya sepatu baru yang bagus, maka kita tak boleh iri karena iri itu sifat setan (katanya). Namun, kalo dipikir-pikir lagi, iri memang akan menjadi buruk jika itu membawa kita ke perilaku dan niat yang tidak baik. Misalnya, karena liat si teman sepatunya bagus, maka kita minder bergaul dengan dia, atau menghasut teman yang lain untuk tidak bergaul dengan dia karena dia anak orang kaya yang sombong, kok beli sepatu baru dipamer-pamerin. Tapi, iri juga bisa membuat kita jauh lebih baik. Coba saja, melihat teman punya sepatu baru, diam-diam tentunya sebagai manusia yang punya hawa nafsu, ada keinginan untuk punya sepatu bagus juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk si sepatu bagus? Artinya kita harus menabung atau mencari pekerjaan kecil-kecilan sampingan, yang nanti di akhir bulan, uangnya bisa digunakan untuk beli sepatu baru. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan punya sepatu baru, tidak bisa sekadar menuntut uang jajan ditambah, tapi ada usaha (effort) lebih untuk melebihi keadaan kita yang sekarang. Positif, bukan?

Beberapa hari yang lalu, secara random saya membaca blog seorang senior yang link-nya muncul di newsfeed facebook saya, Ardya Dipta Nandaviri.

Yang paling saya suka dari postingan tsb I can only think that if I have this kind of discussion everyday, I can only get smarter and smarter every day. Saya iri.

Seingat saya, percakapan yang membuat saya tambah pintar terakhir kali (hingga hari ini) adalah saat saya mendiskusikan topik tugas akhir saya bersama rekan seperjuangan saya, Rizky Ilhamsyah. Sebagai kenang-kenangan, ini poster seminar saya menjelang sidang Tugas Akhir 😀 image (12)

Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar? Entahlah.

Setelah membaca blog senior tsb, ditambah film Internship yang pernah saya tonton beberapa waktu lalu, ditambah buku sharing interview masuk Google yang saya peroleh dari toko buku Periplus di Terminal 2 F Bandara Soekarno-Hatta, disimpulkan bahwa masuk Google itu susah. Dalam artian, orang yang masuk ke sana adalah orang yang memang suka berlogika, punya banyak akal, bisa melihat segala sesuatu dari segala sisi untuk memecahkan suatu persoalan yang diberikan. Keren. Banget.

Sekilas teringat gimana praktikum bahasa pemrograman di tingkat satu dulu. Meski hanya 1 semester, namun jika berminat melanjutkannya, sebenarnya kalo hitung-hitungan permesinan digabungkan dengan pemrograman, bisa menjadi ilmu yang bagus sekali. Membuat bahasa yang hanya berupa titik, koma, tanda kurung, beberapa alphabet, dst, yang kalo gagal di-compile, gatau salah dimana, saat berhasil di-compile, amazed juga karena ada keraguan akan gagal. Begitulah bahasa pemrograman. Lucu dan seru, sih.

Lagi, suatu hari muncul newsfeed di facebook saya, senior saya (jurusan informatika) yang dulu satu unit di penerbitan majalah kampus. Dia memposting transferan yang masuk ke rekening dia, dalam dollar, yang kalo dikonversi ke pegawai macam saya, kita-kira saya perlu waktu 10 tahun untuk mengumpulkan uang yang sama, tanpa makan-minum, tanpa mandi, yang ada cuma kerja dan kerja, demi dedikasi kepada perusahaan dan Negara. Pastinya, muncul nasihat bijak yang bilang,Ah segala sesuatu itu ga bisa diukur dengan duit kali, Din.” You are right. Itu nasehat yang baik banget untuk saya yang masih bertahan di pulau terpencil, demi duit. Sedangkan senior saya itu, kerja bermodalkan komputer, internet, jam bekerja yang cenderung bebas, di lokasi yang dia suka, kapan saja dia mau. Dia dapat bekerja kapan pun dia suka, di kota yang dia suka, dengan pekerjaan yang membuatnya semakin pintar (sedangkan transferan yang masuk itu seperti bonus dari dedikasi kepada ilmu yang dia terapkan dengan baik). Tetap dekat dengan orang-orang yang dia sayang, tanpa adanya batasan harus ke pulau terpencil dan resiko ga ada warung makan yang buka saat ada tanggal merah buat libur natal (hal yang menjadi rahasia perusahaan hingga si pegawai sadar emang ga ada makanan yang bisa dibeli. Bersyukur ada minimarket yang buka overtime 😀 ).

Setidaknya, ada satu hal yang membuat saya iri dan harus segera dijawab dalam waktu dekat: Kapan lagi bisa memulai percakapan pintar?

Pintar