Satu Minggu di Tanah Sulawesi

Layaknya 2 tahun yang lalu, di awal tahun 2017 ini, saya iseng mengirimkan curhatan dan kegiatan perbaikan yang kami lakukan di field, yaitu mengenai perbaikan multistage pump yang digunakan sebagai pompa injeksi. Kalo dua tahun yang lalu diadakan di Bali, maka tahun ini diadakan di Makassar. Kalo dua tahun yang lalu, masih sedikit teman-teman seangkatan yang saya temui di forum ini, namun tahun ini, ternyata banyak yang ikut dan bisa dijadikan ajang reunian kecil-kecilan.

Saya menulis tentang berulang-ulangnya perbaikan dan troubleshoot pompa. Sebenarnya, perbaikan pompa ini telah menjadi success story dan kebanggaan tersendiri untuk field kami. Hal ini juga telah kami tuliskan dalam risalah yang kami ikutkan juga ke forum IIA (Improvement and Innovation Awards) 2016 yang memperoleh predikat Silver. Meski hanya  berpredikat silver, namun dampak langsung telah dirasakan oleh field kami, yang pada intinya adalah mencegah losses produksi akibat kerusakan pompa injeksi air.

Kenapa rusaknya pompa injeksi dapat menyebabkan losses produksi? Karena tidak dibenarkannya pembuangan air terproduksi (air yang telah dipisahkan dari minyak mentah) ke alam bebas, namun harus dikembalikan ke formasi (alias dikembalikan lagi ke dalam tanah tempat asalnya si minyak mentah). Kalo pompa rusak, maka air terproduksi ini akan ditampung di tanki air, lalu jika dibiarkan tanki penuh tanpa adanya perbaikan pompa, maka sumur2 yang memproduksi minyak harus ditutup supaya airnya ga tambah banyak.

Gimana ceritanya perusahaan minyak malah nutup sumur minyak? Hal ini ga dibenarkan dalam bisnis eksploitasi migas.

Nah, alternatif perbaikan pompa injeksi inilah yang berhasil kami di lapangan lakukan. Bukannya terpaku membeli rujukan spare part logam sesuai saran text book, namun kami coba ganti dengan material lain berbahan nylon yang bisa dibeli di pasar, lalu dibubut sendiri, lalu dipasangkan di pompa.

Ide ini muncul di awal tahun 2015, dari anggota pompa yaitu pak Zainul dan bos mekanik saya saat itu, almarhum Marthen Latuperissa.

Perpisahan Pak Marthen
Perpisahan dengan Alm. pak Marthen di awal tahun 2016 yang lalu

Tribute untuk pak Marthen, bos sekaligus mentor saya selama dua tahun pertama di field ini. Akhirnya saya tulis paper ini, lalu saya masukkan ke event dua tahunan FSTH (Forum Sharing Teknologi Hulu) 2017 yang tahun ini dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Ternyata saya diundang untuk sharing knowledge di sana kepada rekan-rekan lainnya. Dan berkat undangan ini, untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di tanah Sulawesi.

IMG_9578
Ga sengaja ketemu temen2 mesin 2008 yang seangkatan waktu kuliah. Ki-ka: Pradipto Sulaksono (PEP), Saya, Wayan Raka Regawan (Persero)

Sore-malam hari saat waktu kosong, saya dan kawan2 tentunya mengisi waktu dengan jalan-jalan, dan tentu saja, makan2 enak khas Makassar. Semuanya enak dan penuh bumbu.

IMG_9421
Makan ikan bakar lupa nama restorannya apa. Ki-ka: Fahmi Maulia Putra, Nicky Leonard Nasution, Saya, Dessy Puspitasari.

Trus makan baso atiraja, makan palubasa, mie titi, es pisang ijo, dan masih banyak lagi. Yang jelas, kalo ga inget ngerem, celana jeans bisa-bisa jadi kesempitan setelah 1 minggu di Makassar. LoL.

IMG_9599
Bareng temen2 dari Bunyu Field yang sama2 mempresentasikan paper. Ki-ka: Dessy, Randy, Saya, Amri, Revo
presentasi-dini-4-e1511161032753.jpg
Presentasi
Presentasi Dini (5)
Menerima plakat presenter dari pak Setyo Pratomo (bos Surface Facilities pusat). Kenapa sik lampu proyektornya ga dimatiin dulu. LoL.

Di hari terakhir, saya ikutan jalan-jalan dengan para Geologist. Karena forum ini dipanitiai oleh Upstream Technology Center (UTC), maka acara di hari terakhir diperuntukkan bagi para Geologist dan yang berminat ikut. Karena saya gatau mau kemana (sebenernya diajakin Dessy jalan2 bareng temen2 Sangatta, tapi karena ga  ngepas dengan jadwal flight saya, maka saya ga jadi ikut mereka), lalu saya mempertimbangkan untuk ikut jalan2 dengan para Geologist tersebut, mumpung masih ada slot kosong di field trip. Akhirnya, nyeliplah saya di antara para Geologist ini. Ga sengaja, ngobrol dengan mbak-mbak di bis, dan ternyata doi senior saya waktu SD-SMP di KPS di Balikpapan. Dunia sempit banget 😀

Dan ujung-ujungnya saya ga ngerti apa yang diomongin selama di perjalanan. Yang saya tau, saya bisa dapet jalan-jalan ngeliat alam di Sulawesi Selatan, salah satunya ke taman nasional Bantimurung. Kalo yang saya liat itu adalah batu, maka para Geologist akan ngomongin sejarah si batu, dan asal muasal kenapa batu itu terlihat atau tenggelam di dalam tanah, dan ngomongin teori gimana batu tersebut berpotensi mengandung minyak, gas, atau ga ngandung migas tapi cuma si batu, dan lain sebagainya. Akhirnya saya ikut foto2 lah ya, lumayan buat kenang-kenangan :p

IMG_4283[1]
Bareng temen2 Geologist yang baru kenalan on de spot 
IMG_4286[1]
Air terjun Bantimurung, Sulawesi Selatan, Indonesia
Jika para Geologist ngeliatin batunya, maka yang saya liat di Bantimurung adalah potensi wisata dan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Meski air di sana melimpah, tapi toiletnya ga terjaga kebersihannya. Dari beberapa ruang toilet, hanya sebagian yang ada airnya, itu pun ngalir terus menerus, tapi toilet lainnya ga ada air sama sekali. Berkebalikan ya 😦

Moga ide-ide inovasi dan bisnis segera berkembang di pengelolanya karena dunia ini bergerak cepat dan penuh inovasi. Kalo kita jalan di tempat, kita ga akan kemana2, dan bisa ketinggalan di berbagai aspek. Ceilah.

Well…

Sampai jumpa lagi di forum sharing selanjutnya 🙂

Satu Minggu di Tanah Sulawesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s