Berbuat Baik

Seringkali saya membaca atau mendengat curhatan orang, yang bilang,”Aku dah kasih semua usahaku untuk perusahaan, tapi kenapa aku ga dipromosi? Malah temenku  dipromosi lebih cepat?”

Atau ada juga yang curhat begini,”Aku ga ngerti, kok dia rese banget ama kegiatan aku padahal aku ga rese ke dia?”

Atau ada juga,”Apa sih salahku? Aku dinyinyirin terus, padahal apa yang aku lakukan ga pernah ganggu hidup dia, aku ga pernah ngomentarin hidup dia?”

Jawabannya cuma satu: itu karena maunya si dia, bukan kamu. Dia ini bisa apa aja, mulai dari perusahaan tempat kita bekerja, bisa rekan kantor, bisa orangtua, bisa pasangan/pacar/suami/istri. bisa juga sahabat kita.

Berbuat baik itu keputusan pribadi kita, dan kalo kita mau berbuat baik, itu niatnya darimana? Dari hati kita. Isi hati kita siapa yang tahu? Kita sendiri.

Maka dari itu, jika sahabat kita membalas kebaikan kita, maka itu terjadi karena dia yang mau berbuat baik, dan alasannya terserah dia berasal darimana. Bisa aja dia beralasan, mau berbuat baik ke kita karena kita dah bantu dia nge-back-up kerjaan dia selama dia cuti.  Tapi kalo dia ga mau baik, itu juga hanya dia yang tau. Bisa saja dia ga ngerespon kebaikan kita karena dia masih inget kalo kita pernah tanpa sengaja bikin dia tersinggung saat kita mengutarakan pendapat, tapi bukannya dia ingetin, dia malah ngebalesnya pake kode2, seperti nyindir, nyikut, atau sesuatu yang kita ga paham, berkelanjutan hingga ngeselin, hingga kita berpikir kenapa dia harus jahat kalo kita udah baik?

Sekali lagi, jawabannya: dia mau berbuat baik itu karena dia yang mau, bukan karena kamu yang mau.

Maka, berterimakasihlah kepada orang2 yang udah baik ke kamu. Dan kamu pun sebaiknya tau diri, bahwa jika orang lain sudah baik, maka bantulah balas kebaikannya. Kebaikan itu niatnya datang dari si orang! Bukan kamu!

Pernah saya mengikuti training Stephen Covey bertema: 7 Habits of Highly Effective People (saya rasa saya butuh refresh materi ini, dan saya sangat merekomendasikan kalian untuk mengikutinya). Salah satu dari 7 habits itu adalah: circle of influence and circle of concern (lingkaran/wilayah yang bisa kita ubah dan lingkaran/wilayah yang hanya bisa kita peduli-kan, tapi ga bisa kita ubah).

Circle of Influenc
Pict Source: here

Apa yang bisa kita ubah? Perilaku kita, untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Bahkan untuk menjadi setia, itu keputusan pribadi kita. Menyayangi atau jatuh cinta pada orang yang sama berulang-ulang, setiap hari, itu keputusan kita. Saat orang lain berbuat kebalikannya kepada kita, itu keputusan dia, yang hanya ada di wilayah yang kita peduli-kan, tapi ga bisa kita ubah. 

Bekerja dengan baik di perusahaan yang sama, itu adalah keputusan kita. Saat yang dipromosikan oleh perusahaan malah bukan kita, itu adalah keputusan perusahaan, bukan kita. Tapi kalo kita mau mendekati bos, mencari muka, mau tampil, cepat menjawab kebutuhan bos di perusahaan, maka itu keputusan kita, yang bisa saja hal ini membuat perusahaan mempromosikan kita.

Dari konsep ini, diajarkan bahwa:

Don’t stress things you can’t control!

Tulisan random ini hanya sebagai pengingat kepada saya pribadi, dan hanya sharing random dari pemikiran saya yang random tentang kehidupan.

Selamat hari Senin!

Berbuat Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s